Tuesday, July 11, 2017

Perpustakaan Bersejarah & Keren di Paris

Orang Perancis sangat menghargai kekayaan budaya dan sejarahnya. Sampai kadang-kadang, suka kelewat bangga dan cenderung sombong, hahaha...Tapi gimana lagi ya, yang namanya budaya dan tradisi intelektual itu memang sudah mengakar banget dalam budaya Perancis. Kalau kata adik saya sambil merutuk sebal campur kagum "Pantesan sombong, lha wong bagus banget begini" (huahahahah...)
Nggak heran kalau, di sini banyak sekali perpustakaan. Mulai dari perpustakaan kota yang modern dan minimalis, sampai perpustakaan bersejarah berusia ratusan tahun dengan koleksi antik dan arsitektur yang spektakuler, semuanya ada di Paris.
Kali ini, saya bagikan tiga perpustakaan bersejarah di Paris yang wajib dikunjungi para pecinta buku dan arsitektur.

1. Bibliothèque Mazarine



Perpustakaan ini adalah perpustakaan umum tertua di Perancis, dibangun oleh Kardinal Mazarin pada abad ke-17. Perpustakaan ini terletak dalam Palais de l'institut de France, sebuah organisasi legendaris yang bertugas menjaga kebudayaan Perancis.
Bukan cuma koleksi bukunya yang unik, tua, dan langka, namun arsitektur Bibliothèque Mazarine yang klasik juga membuat tempat ini wajib banget dikunjungi. 
Untuk masuk, tidak dikenakan biaya alias gratis tis tis, tapi dilarang memotret di dalam perpustakaan. Jangan berisik karena di tempat ini melengos pun kedengaran deh. Tempat ini cocok untuk belajar karena tenang dan damai serta vibe-nya itu loh, intelektual buangettt. Eh iya, wifi gratis dan colokan komputer juga ada. 
Untuk yang ingin meminjam buku, cukup mendaftarkan diri dengan ID card, langsung diberikan akses gratis selama 5 hari per tahun (selebihnya bayar!). Kita bisa memilih buku dari koleksinya yang luar biasa dengan katalog elektronik, selanjutnya para petugas yang akan memberikan bukunya di meja. Saya betah banget di sini karena semua petugasnya ramah-ramah dan helpful banget.

Alamat: 23 Quai de Conti, 75006 Paris
Jam buka: tiap hari kerja (Senin-Jumat) jam 10 pagi- 6 sore 

2. Bibliothèque Nationale de France site Richelieu

Namanya juga perpustakaan nasional, Bibliothèque Nationale de France (BNF) adalah perpustakaan Perancis terbesar dengan koleksi sekitar 40juta buku dan publikasi lain. Gila kan. Saking banyak koleksinya, BNF punya beberapa bangunan di kota Paris. Tapi, site Richelieu adalah bangunan BNF yang paling cantik dan bersejarah.
Sayangnya, akses meminjam buku hanya diperbolehkan untuk mahasiswa S2 ke atas atau yang sedang melakukan riset. Itu pun jurusannya tertentu, misal: Seni, Sejarah, dsb dan dibutuhkan dokumen untuk membuktikan. Jadi intinya, kalau cuma pingin kongkow-kongkow di sini, enggak bisa deh! Tapi syukurlah, pengunjung masih tetap diperbolehkan masuk ke dalam ruangan untuk sekedar mengagumi atau memotret arsitekturnya yang memang WOW banget!

Alamat: 58 Rue de Richelieu, 75002 Paris
Jam buka: tiap hari kecuali Minggu, jam 9 pagi- 8 malam 

3. Bibliothèque Sainte-Geneviève

Perpustakaan ini dulunya dimulai sebagai koleksi biara Sainte-Geneviève di abad ke-12. Sekarang, perpustakaan ini menjadi bagian dari Universitas Sorbonne, Paris Cité. Akses masuknya gratis, tapi harus mengisi formulir dulu. Lebih baik datang pagi-pagi, karena tempat terbatas sedangkan banyak mahasiswa yang ingin belajar di sini. Arsitekturnya? Hwahhh, lihat aja foto ini, terbengong kagum deh ngelihatnya!
Buat yang mau sekedar mengunjungi tanpa membaca buku, bisa datang antara jam 2 siang- 6 sore untuk kunjungan cepat 10 menit (saya belum pernah mencoba, sayang kan kalau nggak duduk menikmati suasana).

Alamat: 10 Place du Panthéon, 75005 Paris
Jam buka: tiap hari kecuali Minggu, jam 10 pagi- 10 malam



Monday, May 29, 2017

Street Fashion Guide: Pakai Baju Apa Waktu di Paris?




Paris memang kota yang romantis banget. Kebayang kan, gandengan sama si kesayangan di tepi Seine, sambil memandangi Eiffel. Oh, so in love...
Bzzzztttt.... kenyataannya, banyak teman yang datang ke Paris dan merutuk-rutuk. Gimana mau romantis kalau kedinginan terus? Atau malah salah kostum, pakai boots di tengah summer yang panas membara (summer terakhir, temperatur mencapai 37 C loh).

Ataaauuuu.... Saya sering nih ngelihat ibu-ibu dengan belanjaan Chanel dan Louis Vuitton, tapi style-nya ya ampuuun, bisa kena denda fashion police banget deh!
"You can buy expensive brand, but you can not buy taste & style!"

Nah, buat yang lagi planning mau ke Paris, di bawah ini saya siapin tips-nya. Yang penting, waktu jalan-jalan di Paris pakailah baju yang nyaman dan don't try too hard!

Glimpses at fashion wants to be more Parisian wherever she is...: 1- Cek perkiraan cuaca
Cuaca di Paris memang selalu naik turun. Sebelum pergi, lihat dulu kurang lebih bagaimana temperatur dan cuaca di Paris, misalnya lewat Accuweather.com atau website/aplikasi lainnya.
Paris biasanya nggak perlalu dingin seperti negeri Eropa utara, umumnya sewaktu musim dingin temperatur minimum hanya hingga -5 C.
Di musim dingin, akhir musim gugur atau awal musim semi, pilihlah jaket/ coat yang tebal. Gunakan stocking untuk melapisi di bawah celana supaya tetap hangat. Tidak perlu stocking khusus kok, yang penting untuk melapisi. Sediakan syal hangat (wool atau pashmina) selalu.
Di musim panas, Paris bisa panas banget lho. Kadang-kadang temperatur mencapai 40 C, walaupun cuma beberapa hari.
Nah... apapun musimnya, selalu siapkan payung! Bawalah payung kecil yang bisa dilipat dan dimasukkan ke dalam tas, karena hujan di Paris bisa datang kapan saja.

New Balance Sneakers, leather jacket, Chanel Boy bag: 2- Gunakan sepatu yang nyaman
Pernah melihat film atau iklan dengan latar belakang Paris, di mana aktrisnya pakai sepatu hak stiletto tinggi yang cakep banget? Haahhhh itu bohong!!! Jangan sampai pengalaman indah jalan-jalanmu di Paris rusak karena kaki kesakitan!
Parisiens suka berjalan ke mana-mana, naik turun metro dan bis. Mereka hanya mau pakai sepatu yang nyaman. Tapi ingat, Pariesiens itu keren-keren banget, jadi mereka juga ogah kalau disuruh pakai tennis shoes kayak orang amerika.
Pilihan sepatu yang klasik di Paris, misalnya:
- Adidas Stan Smith (yang putih netral)
- New Balance 620
- Repetto Ballet shoes
- Repetto Richelieu
Masalah sepatu Repetto ini nanti saya buat artikel sendiri, karena saya cinta bangeeeeettttt!

3- Pilih warna netral
Pilihlah warna netral seperti abu-abu, hitam, coklat, dsb. Gunakan sedikit warna untuk aksen (misalnya syal warna-warni) dan sisanya netral.
Waktu late spring atau summer, baru pilih warna-warna yang lebih cerah ceria.

4- Tidak perlu make-up tebal
Marie from IYC http://intoyourcloset.blogspot.fr/2014/10/oh-boy.html: Saat di Paris, apalagi waktu dingin, yang paling penting adalah menggunakan pelembab. Maklum, cuaca bisa terlalu kering buat kulit tropis loh. Siapkan lipstik merah membara seperti MAC Ruby Woo, Chanel Pirate, atau NYX Pure Red!

5- Tas yang aman
Nggak perlu bawa Hermes Birkin atau Lady Dior berkeliling Paris. Dipandu dengan wajah asiamu, sama saja dengan menarik perhatian pencopet! Turis asia adalah sasaran utama penjahat di Paris, karena terkenal kaya dan suka membawa banyak uang tunai.
Jadi, cukup bawa tas kecil manis yang bisa ditutup rapat dan diisi syal, telpon genggam, serta lipstik (kalau saya, selalu punya coklat, hehehe). Bawa payung jika perlu. Siapkan uang tunai secukupnya dan kartu kredit, selipkan di saku yang sulit dijangkau orang lain. Jangan lupa, telepon dulu bank-mu sebelum bepergian, pastikan kartu kreditmu bisa dipakai di luar negeri! Nggak perlu bawa passport ke mana-mana, cukup fotokopinya saja beserta fotokopi visa. Pastikan dokumen-dokumen ini juga tersedia online, just in case!

Okelahhh, selamat jalan-jalan di Paris ya. Ping me, siapa tahu kita bisa ngopi bareng!

Thursday, February 25, 2016

Kawiiiiiiiin...! A french-moroccan wedding

Acara kawinan paling heboh yang pernah saya hadiri, ternyata kok ya acara kawinan saya sendiri. Maklum, walaupun Mr.Sugar lahir dan dibesarkan di Perancis, keluarganya berasal dari Maroko. Jadi wedding kami adalah campuran french dan moroccan wedding. Lho, unsur indonesianya mana? Kedua adik saya menikah dengan adat jawa, jadi kita mau yang beda deh. Trus, tampang saya juga indonesia banget, jadi cukup mewakili lah, hehehe...

Nggak seperti di Indonesia yang mengundang ratusan bahkan ribuan orang, wedding di Perancis biasanya dihadiri orang-orang dekat saja. Acaranya pun nggak cuma datang- salaman- makan, tapi melibatkan acara tari-menari hingga berjam-jam. 


Jam 8 pagi. Saya terbangun dengan Mama di samping saya. Di ruang sebelah, Bapak dan adik-adik saya sudah mengobrol. Seluruh keluarga saya ada di Paris buat nikahan saya, termasuk adik ipar yang sedang hamil 5 bulan dan sahabat baik saya!

Pak walikota lebih hepi ketimbang manten
Jam 12. Rombongan pengantin pria datang untuk menjemput. Sial, saya merasa gendut banget dengan gaun pengantin putih saya. Nyesel kenapa tetep aja nggak diet sebelum kawinan. Dari lantai 5 apartemen, saya melihat iringan mobil pengantin yang membunyikan klakson bersahutan. Tak lama, Mr.Sugar muncul sumringah di depan pintu, membawa bunga diiringi para wanita dari keluarganya. Mereka menyanyikan lagu, ululate*, dan menaburkan kembang gula kecil (tradisi Maroko nih). Keluarga saya super-excited karena belum pernah melihat kelakuan semacam ini.

13:00 teng, acara di balai kota dimulai. Para tamu duduk manis dan si walikota memulai bla bla. Tak lama kemudian... It's legal! We're hooked! Semua bertepuk tangan, kami berjalan ke halaman, bunga ditaburkan, rombongan pemusik mulai bermain dan para tamu menari gembira.Setelah foto-foto, rombongan pun bubar, bersiap menuju acara cocktail dan resepsi di sebuah château (kastil), sekitar 1 jam dari Paris.

18:00. Welcome cocktail dibuka di halaman château. Matahari masih bersinar hangat (maklum summer) dan semua sibuk berfoto ria. Lagu Yen Ing Tawang Ono Lintang yang versi jazzy terdengar di background (saya dong yang bikin playlist nya!)

19:00. Saya mulai berganti dengan baju tradisional maroko, warna merah penuh bling keemasan, dibantu seorang negafa (di jawa dipanggilnya ibu paes lah...).

Orangerie château tempat resepsi
19:30 Saya & Mr.Sugar memasuki ruangan di atas tandu. Musik heboh dimainkan, para tamu bersorak dan bertepuk tangan, lalu menari ramai-ramai. Ya ampun, ini acara kawinan heboh banget sih..! Semua tamu yang bukan berasal dari Maroko terpana tapi ikutan heboh juga...

19:45 Appetizer dihidangkan. Saya nggak boleh ikut makan karena harus ganti baju kedua, kali ini warna biru tosca. Lalu saya kembali memasuki ruangan, para tamu bersorak, bertepuk tangan dan menari lagi. Mama dan tante saya, yang memang dasarnya suka yang heboh-heboh, got too excited.

Jam 21:00 Repeat! Makanan dihidangkan, setelah itu musik berbunyi dan para tamu kembali menari! Saya nggak boleh ikut makan main course karena harus di-henna tangannya sambil ditonton para tamu. Hello, pengantinnya lapar... nanti ngambek nih!!! (wedding planner janji saya boleh ikut makan dessert, sadis ya). Mama saya cekikikan sambil berkata "Tiap dikasih makan, habis itu kita harus nari ya?"

Saya pilih henna emas biar gampang di keletek.. hehehe
Jam 22:30 Dessert dihidangkan. Pemusik tradisional mundur, diganti dengan DJ. Musik Top-40 pun dimainkan dan para tetamu yang masih banyak tenaga menari dengan hebohnya.


Jam 1 pagi... setelah ganti baju ketiga, potong kue (disambung dancing lagi, pastinya) tetamu sudah hampir bubar dan saya sudah bentuknya nggak keruan. Mr.Sugar entah ke mana, kayaknya ngurusin tetamu keluarganya yang pamitan.


Jam 3 pagi. Saya dan Mr.Sugar tiba di hotel dengan gaun pengantin putih yang ekornya ke mana-mana, ada daun kering segala nyangkut di situ.
Totally exhausted but the best wedding we have ever been! (hahaha, ya iyalahhhh)

.........ngorok sampai sore

* Catatan: ululate adalah menyuarakan suara melengking dengan getaran lidah, biasanya disuarakan wanita mediterania dan arab, untuk menunjukkan kebahagiaan. Kalo nggak biasa, rada kedengeran liar pokoknya.

Tuesday, February 23, 2016

Kawiiiiiiiiiiin....! Preparing a Wedding in Paris (bagian 1)

Tulisan ini telat banget karena udah di-draft dari tahun 2014 (!). Tapi buat yang berencana menikah dengan warga perancis, saya harap tulisan ini bisa membantu proses legalnya. Kalau disuruh nyariin cowok perancis, saya nyerah dehhh...

Dengan kesibukan jalan-jalan saya, kayaknya memang wajar kalau saya nggak juga kawin. Sayangnya emak saya nggak setuju kalau ini hal yang wajar; menurut dia sih saya harusnya udah beranak-pinak. Diam-diam, saya pingin juga sih kawin. Tapi kalau belum ada yang cocok gimana dong?

Seine di malam hari (foto dari www.parisinsiderguide.com)
Saya pertama kenal Mr.Sugar sebelum pindah ke Paris, dan pastinya lah kami jadi semakin dekat ketika saya sudah tinggal di Paris. Kan katanya Paris itu the city of love, wajar dong kalau tiba-tiba semuanya berbunga-bunga (halah....!!) Ya gimana, tempat ini romantis banget gitu loh. Jalan-jalan di tepi Seine, piknik di tengah bunga-bunga Jardin du Luxembourg, opera klasik di Garnier.... Long story short: kami memutuskan menikah.

Jardin du Luxembourg di musim panas

Sama Mr.Sugar ini jalannya mulus banget; kalau jodoh katanya begitu ya. Usia kita selisih dikit, profesi kita mirip-mirip, sama-sama dikejar kawin sama orang tua, gaya hidup dan prinsip pun sesuai. Syukurlah, orang tua pun merestui. Atau pasrah, akhirnya dua anak ini mau juga kawin... entahlah.

Kami memutuskan untuk menikah di Perancis karena kami tinggal di sini, jadi dari segi hukum lebih pasti. Urusan surat-menyuratnya banyak banget, tapi peraturan dari Mairie (balai kota) lumayan jelas. Lucunya, justru dari pihak kedutaan Indonesia yang persyaratannya agak aneh. Contohnya: surat izin menikah dari orang tua. Mungkin di Indonesia ini wajar, tapi di Perancis saya jadi bahan ketawaan karena usia segini masih butuh izin orang tua.
Untuk daftar lengkap berkas yang diperlukan buat pernikahan di Perancis, monggo di cek di website Kedutaan Indonesia di Paris (klik di  sini.) Tapi sebaiknya menelepon langsung siapa tahu ada perubahan peraturan.

Walaupun daftar dokumen yang diperlukan lumayan panjang, untunglah Ibu saya orangnya efisien banget, ditambah semangat membara karena akhirnya saya kawin juga. Semua dokumen dari Indonesia diurus beres sama Ibu dengan bantuan Pak Subandi. Beliau adalah agen jasa yang sangat berpengalaman di bidang ini, kalau ada yang butuh langsung saja dikontak di +62 812 967 3834 atau subanditrans@yahoo.com.

Oh iya, kami juga membuat prejanjian pra-nikah (prenuptial agreement) pisah harta di Indonesia lewat notaris. Ini disarankan oleh adik saya yang notaris. Jika tidak pisah harta, karena  peraturan pemerintah Indonesia yang tidak mengizinkan WNA memiliki hak milik, jika saya membeli properti di Indonesia setelah pernikahan statusnya bisa membingungkan. Di Perancis  sendiri ini tidak menjadi masalah, jadi kami tidak membuat prenuptial agreement di Perancis.

Yang menarik, karena Perancis adalah negara sekuler, semua pernikahan di Perancis adalah pernikahan sipil. Artinya, pernikahan diselenggarakan oleh negara, dengan diwakili oleh walikota di mana pasangan tersebut menikah. Kalau mau menikah secara agama ya boleh, tapi harus dilaksanakan setelah pernikahan legal secara sipil. Benar-benar berbeda dengan Indonesia, di mana pernikahan adalah urusan agama, sementara tugas negara adalah mencatatkan semata.

Dari pihak Indonesia, semua dokumen kelar hanya dalam waktu sebulan saja.  Kami pun pergi ke balai kota untuk mendaftarkan jadwal pernikahan. Alhamdulillah lancar!


Diner à Paris: Makan Apa di Paris, bro?


Orang perancis memang terkenal antusias sekali dengan makanannya. Piringnya gede, makanannya sedikit, diatur dan dihias cantik banget kayak lukisan Rembrandt. Mau dimakan sayang karena lucu, udah dimakan pun masih lapar... hahaha...(maklum perut indonesia!)

Cappucino ice cream with ginger,peach,and flower petals. Kitchen Galerie Bis.
Kota cantik ini penuh dengan berbagai macam restoran: berbagai jenis kuliner dari seluruh penjuru dunia, 70 restoran yang punya Michelin-star, dan ratusan restoran yang cuma tourist-traps! Jadi, kalau pas jalan ke sini dan pingin menikmati makanan a la parisian, penting banget untuk menghindari tourist-traps yang makanannya nggak enak serta mahal.
Nah, kali ini saya share beberapa restoran favorit saya di Paris.Setelah nyobain berbagai restoran, akhirnya saya baliknya ke sini-sini lagi deh! Karena benar-benar berdasarkan pengalaman, mungkin rekomendasi saya nggak banyak banget, tapi dijamin enak, autentik parisian, harga terjangkau, dan lumayan cocok buat selera asia. Perhatikan jam buka, karena rata-rata restoran di Paris cuma buka untuk lunch dan dinner, serta tutup di hari Minggu!
Harga: $ (murah untuk standar Paris), $$ (medium), $$$ (agak mahal)


Thai Vien, 56 Avenue de Chosy, Paris 13. Restoran yang spesialis makanan thai-vietnam-laos ini tempatnya sederhana, nyempil di Paris 13 yang merupakan asian quarter-nya Paris. Macam warung lah. Makanan thai-nya enak dan autentik, servisnya cepat dan efisien. Di sini saya selalu order Pad Thai dan Mr.Sugar selalu order Thai Pepper Shrimp.. udah default dahhh! Saking seringnya ke sini, kami selalu bawa kursi bayi sendiri dan para pelayannya udah cuek banget biarpun si bocah bikin berantakan, hahaha...
Seperti kebanyakan restoran di Paris, tempat duduknya mepet-mepet, jadi siap-siap buat umpel-umpelan. Mereka buka dari siang hingga malam non-stop, tiap hari kecuali hari Selasa.
Harga: $

Crepe Roue- with foies-gras & salad
Creperie de Pont Aven, 54 rue du Montaparnasse, Paris 14. Crepe, makanan perancis khas Bretagne, bisa disajikan gurih (diisi ayam, daging, dsb) atau manis (diisi coklat, karamel, dsb). Di pinggiran jalan, terutama di daerah turis, banyak  yang menjual crepe, tapi sama sekali nggak autentik! Kalau pingin mencicipi crepe yang asli Bretogne, daerah Montparnasse penuh dengan creperies, alias restoran yang spesialis menyajikan crepe. Favorit saya adalah Creperie Pont Aven: pilihannya banyak, enak-enak semua, dan banyak option non-pork-nya. Tempatnya mungil dan cozy, dekornya cantik banget deh. Juga, buka non-stop dari siang hingga malam termasuk hari Minggu, reliable! Harga: $






Restaurant la Mosquée, 39 Rue Geoffroy-Saint-Hilaire, Paris 5 
dan Tipaza, 155 Rue Saint-Charles, Paris 15

Restaurant la Mosquée
Komunitas North Africa di Paris gede banget, makanya nggak heran kalau di sini banyak restoran maroko yang enak. Tadinya restoran maroko favorit kami adalah Riad Nejma di Marais, tapi restoran yang populer in entah kenapa tutup, huhuhu.... Favorit lain kami adalah, Restaurant la Mosquée yang terletak persis di halaman masjid besar Paris. Di luar sama sekali tidak ada papan nama, jadi ikuti saja arah rombongan orang yang lagi duduk-duduk minum teh.  Bagian luar restoran ini tea room terbuka, cocok untuk menikmati mint tea dan kue-kue, sedangkan bagian dalamnya restoran untuk menyajikan "makanan besar". Arsitekturnya cantik banget dan makanannya autentik, cuma sabar aja para pelayannya suka banyak attitude (hehehe... well, ini Paris.....). Buka tiap hari termasuk hari Minggu, jam 12:00-15:30 dan 19:00-22:30. Harga: $$
Restoran maroko favorit yang lain adalah Tipaza, di daerah selatan Paris. Tempatnya juga cute, makanannya sama-sama enak, tapi pelayanannya lebih ramah. Buka tiap hari termasuk hari Minggu, jam 12:00-14:30 dan 19:00-22:30. Harga: $$

Kitchen Galerie Bis, 25 Rue des Grands Augustins, Paris 6. Oh wow, so in love with this gastronomic restaurant! Restauran ini memadukan masakan perancis dengan inspirasi dan rasa Asia. Saya selalu pesan "Zors-d'oeuvres menu", yang terdiri 6 plates mulai dari appetizers, main courses, dan deserts. Menunya surprise, chef-nya akan menghidangkan sesuai dengan bahan segar dan inspirasinya hari itu. Kita tinggal bilang makanan apa yang kita pantang (contohnya, saya selalu menghindari pork dan daging/ ikan mentah). Belum pernah kecewa! Selalu terpesona dan terkagum-kagum dengan hidangan sang chef. Maklumlah, head chef-nya adalah Michelin-starred William Ledeuil. Restoran ini dekat dengan hingar-bingarnya Saint-Michel yang hip, trendy (dan sedikit turistik), tapi terletak di jalan kecil yang tenang. Buka untuk lunch dan dinner, hari Minggu dan Senin tutup. Harga: $$$


Soba soup, AKI. Pas banget dimakan di tengah dinginnya Paris... yummm
AKI, 11 rue Sainte-Anne, Paris 1. Hati-hati, di Paris memang banyak restoran Jepang tapi kebanyakan "palsu". Kebanyakan restoran jepang adalah restoran cina yang sedang menyamar... no joke! Untuk mendapat makanan jepang yang enak, daerah dekat Opera Garnier ini dipenuhi dengan restoran-restoran Jepang yang enak. Favorit saya adalah Aki, soalnya di sini mereka punya Soba soup yang enak dan non-pork. Kalau pas lunch, saya selalu order set menu-nya, semuanya oke. Okonomiyaki-nya juga terkenal, cuma karena saya kurang suka okonomiyaki jadi jarang order. 
Buat desert-nya, langsung saja menyebrang jalan ke Aki Boulanger & Patissier, toko roti perpaduan jepang-perancis. Cobain deh enaknya Eclair green-tea atau Mille feuilles dengan Matcha...
Harga: $, buka terus mulai lunch sampai malam, Minggu tutup.


Dipilih kuenya kakak... hapus dulu ilernya yah...
Boulangerie & Patisserie. Satu lagi yang saya sarankan, cobain deh jajan di Boulangerie & Patisserie di Paris. Nggak perlu yang terkenal, cukup yang nyempil di jalan kecil-kecil aja, karena mereka malah lebih autentik. Orang perancis memang jago bikin roti dan kue, semuanya enak-enak, namanya pun cakep-cakep banget! Ada Madeleine, Tropezienne, Opera, Paris-Brest, St. Honore, Religieuse... haduh, ngasih nama kue aja serius banget!
Boulangerie & Patisserie favorit saya adalah yang dekat apartemen saya dulu di rue Brancion, Paris 15, di pojokan jalan dan nggak ada namanya. Tiap hari antriannya mengular panjaaaang... semua kuenya cantik dan uenaaaaak...


Pilihan halal. Untuk pilihan halal, selain restoran maroko di atas, saya juga recommend restoran India Gandhi Mahal, 38 Rue Alphonse Bertillon, Paris 15 (nggak mahal kok, namanya aja, hihihi...) dan Le Caroubier, 8 Boulevard Lefebvre, Paris 15.

Tuesday, July 22, 2014

Musik Klasik di Eglise Saint Chapelle (warning: romantis bangetttt)

Buat pecinta musik klasik, sudah pasti salah satu surganya adalah Paris. Mulai dari yang gratisan (cek di sini), sampai yang ratusan euro per kursi, semuanya ada...

Konser klasik favorit saya adalah konser kecil di Eglise Saint Chapelle, dekat dengan katedral Notre Dame. Grup yang tampil biasanya terdiri dari beberapa pemain biola, bas, dan piano, bukan full orchestra. Lagu yang dimainkan ringan-ringan, klasik populer yang manis, seperti Canon (Pachelbel) atau The Four Seasons (Vivaldi).
Cocok sekali buat mengisi sore romantis sebelum dinner. Apalagi Eglise Saint Chapelle ini tempatnya, waoooo romantis banget.....

Silakan dicoba deh. Beli tiketnya bisa di fnacspectacles.com atau langsung on spot. Harganya lumayan terjangkau, mulai dari 20-an Euro.


Sunday, June 1, 2014

Seputar Paris dengan Public Transport: Nggak Perlu Nyetir!

Paris tram melaju di track yang berumput hijau
Public transport alias kendaraan umum adalah salah satu alasan saya jatuh cinta banget sama kota ini. Apalagi setelah 3 tahun tinggal dengan kemacetan Jakarta, wawwww... bahagia banget deh tinggal di Paris yang public transportnya oke banget. Bayangkan, hampir di setiap pojokan jalan ada stasiun metro, halte bus, trem, serta RER dan kereta (metro melayani kota Paris saja, sedangkan RER dan kereta melayani hingga keluar Paris). Juga, banyak tersedia penyewaan sepeda serta mobil listrik. Keren banget kaaan...

Turis atau pengunjung bisa membeli tiket single (2 Euro), tiket terusan, atau Paris Visite. Yang terakhir ini lumayan menarik karena pengunjung mendapat ekstra diskon di Galerie Lafayette, Disneyland,  dan beberapa atraksi lain. Jangan lupa untuk memperhatikan zone, karena daerah sekitar Paris dibagi menjadi 5 zone. Paris sendiri adalah zone 1, makin jauh dari Paris makin besar zone nya. Dengan tiket terusan atau Paris Visite, kita bebas menggunakan semua jenis kendaraan umum, kapan saja, asal masih dalam zone-nya.


Pass Navigo: tinggal disenggolkan saja Neng...
Untuk yang tinggal agak lama di Paris, lebih praktis untuk membeli Pass Navigo. Navigo bisa diisi mingguan atau bulanan, dan berlaku untuk zone tertentu. Selain untuk kendaraan umum, Navigo juga bisa diisi dengan registrasi Velib.

Nah, Velib ini favorit saya banget!!! Velib adalah penyewaan sepeda yang disediakan pemerintah, dengan ratusan stasiun tersebar di seluruh Paris. Kita bisa mengambil sepeda di mana saja, lalu mengembalikannya di stasiun mana saja. Cukup dengan 39 Euro per tahun, kita bisa tanpa batas menggunakan sepeda velib (selama 45 menit antara stasiun) tanpa biaya ekstra. Atau, bisa juga membeli tiket harian (1.7 Euro kalo nggak salah). Selain sepeda, ada juga penyewaan mobil elektrik Autolib, yang skemanya hampir mirip dengan Velib (tapi butuh driving license dan jaminan kartu kredit).

Jessica Alba & Velib (penting kaaan)
Selain Velib, saya juga paling suka naik bus. Terutama karena kita bisa sambil melihat pemandangan Paris dan nge-tag toko yang lucu-lucu (kalau naik metro kan gelap tuh). Dekat rumah saya ada beberapa halte bus dan saya sudah hapal banget rutenya. Mr.Sugar* yang dulu paling anti naik bus, sekarang jadi penggemar bus kayak saya... hahaha...

Untuk pengunjung, saya selalu menyarankan untuk naik bus 95 yang rutenya asyik banget, ibarat tur gratis di Paris. Bus 95 melewati Montparnasse (stasiun besar dan areanya penuh dengan restoran), rue de Rennes (tempat belanja yang nggak turistik), St Germain des près (area superchic yang dipenuhi toko-toko keren), Louvre (bus ini lewat persis di depan piramid kaca!!), Opera, Gare St.Lazare (ada Jardin de Plantes dan Museum Natural History), serta berakhir di Pt. de Montmartre (dekat dengan poin tertinggi Paris yang pemandangannya oke banget). Bus lain yang rutenya ibarat tur adalah bus 42 and 69 (saya nggak terlalu sering naik bus ini karena nggak lewat dekat rumah).


Jadi di dalam Paris, kita nggak butuh punya mobil. Sebenarnya sih, kalau kita nekat nyetir di Paris bisa juga. Macetnya nggak kalah sama Jakarta (terutama di peripheric alias outer ring road) dan urusan cari parkir bisa bikin gila. Serius: gila saking susahnya cari spot kosong, dan kalau nekat parkir sembarangan nggak cuma kena denda tapi dijamin diderek (no kidding!!!)

Yeaa.. bus 95 andalan!!

Nah, sebelum traveling ke Paris, download dulu beberapa aplikasi ini di smartphone-mu (saya pakai iPhone, tapi pastinya aplikasi ini ada versi Android nya):
1. vianavigo - cukup ketikkan alamat tujuanmu dan aplikasi ini langsung menunjukkan kendaraan umum apa yang sebaiknya diambil, termasuk waktu tempuh dan lokasi halte! Aplikasi andalan saya banget!!
2. ratp - hampir sama seperti vianavigo tapi hasil search-nya suka aneh (makanya saya pilih vianavigo). Aplikasi ini jadi andalan saya untuk melihat jadwal bus secara real time, karena terhubung dengan sistem GPS bus (j'aime j'aime). Jadi saya bisa mengatur apakah mesti jalan santai ke halte atau lari sprint, hehehe...
3. bicyclette - untuk melihat di manakah lokasi Velib terdekat (dan juga di seluruh Paris pastinya), termasuk ada berapa banyak sepeda yang tersedia.



Nggak ada ampun buat yang parkir sembarangan!!
*Mr.Sugar nih ceritanya pacar saya. Seriusan nih; kita rencana menikah summer ini. Nanti deh saya post cerita tentang wedding preparation.